Jumat, 01 April 2011

Menyiapkan Guru yang Berkualitas dengan Pendekatan Micro Teaching

Melalui artikel ini penulis ingin menyampaikan gagasan-gagasan yang
mungkin dapat berguna untuk meningkatkan kualitas guru di lingkup BPK
PENABUR. Seperti judul artikel, “Menyiapkan Guru Yang Berkualitas
dengan Pendekatan Micro Teaching”, maka pembahasannya difokuskan
pada beberapa pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana mempersiapkan diri
menjadi guru? Bagaimana kriteria guru yang berkualitas? Bagaimana konsepsi
micro teaching? Prasyarat apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan micro
teaching? Bagaimana aplikasi micro teaching? Adakah manfaat micro teaching
secara lebih luas? Seperti apa contoh rencana pelajaran micro teaching

Persiapan Diri Menjadi Guru

Secara akademik jika seseorang ingin menjadi guru ia harus menempuh
pendidikan keguruan. Guru TK dan SD masuk ke PGSD, guru SMP dan sekolah
lanjutan atas masuk FKIP atau IKIP (sudah melebur di dalam universitas).
Akan tetapi mereka yang lulusan universitas dengan disipilin ilmu murni,
misalnya kimia, dapat menjadi guru dengan syarat sudah menempuh program
Namun demikian persiapan menjadi guru tidak semata-mata melalui jalur
pendidikan formal. Faktor internal yang ada di dalam diri seseorang juga
mempengaruhi kesuksesan orang menjadi guru. Kesuksesan bukan dalam
arti kaya secara duniawi, melainkan kesuksesan karena ia benar-benar menjadi
seorang guru yang berkualitas (profesional) ditinjau dari berbagai aspek. Jika
faktor internal seperti motivasi dan bakat sangat berpengaruh terhadap
kesuksesan seseorang menjadi guru, maka tesis yang dikemukan oleh James
Phopam dalam bukunya “Bagaimana Mengajar Secara Sistematis”, bahwa
guru itu dilahirkan bukan dibentuk seolah menjadi pembenaran. Lebih lanjut
dikemukakan, tidak setiap guru membutuhkan pertolongan. Beberapa orang
memang benar-benar dilahirkan sebagai guru. Termasuk di dalam golongan
ini adalah, orang-orang yang tidak pernah memikirkan bagaimana caranya
mengajar. Meskipun demikian orang-orang semacam itu tidak banyak
memerlukan pertolongan dalam memperbaiki pengajaran. Mereka sungguhsungguh
boleh dikatakan sebagai guru-guru yang berbakat; tidak diragukan
lagi mereka itu mampu memberi inspirasi.
Dalam konteks ini dapat dianalogikan, meskipun seseorang sudah
menempuh pendidikan keguruan baik itu program diploma atau S1, namun
setelah terjun di dalam kelas tidak menunjukkan performance yang cukup
memadai. Secara materi ia mampu menguasai, namun tidak cukup terampil
untuk menyampaikan materi dengan jelas, menarik sehingga mudah
dimengerti oleh siswa

Kriteria Guru yang Berkualitas

Seorang guru yang ideal menurut Uzer Usman (1992) mempunyai tugas pokok
yaitu mendidik, mengajar dan melatih. Oleh karena itu seorang guru harus
memiliki kompetensi. Dalam profesi keguruan kita mengenal istilah kompetensi.
Kompetensi itulah yang digunakan untuk menilai apakah seorang guru
berkualitas atau tidak. Ada tiga kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu:
(1) kompetensi personal, (2) kompetensi sosial, dan (3) kompetensi profesional.
Kompetensi personal lebih menunjukkan pada kematangan pribadi. Di
sini aspek mental dan emosional harus benar-benar terjaga. Kompetensi sosial
lebih menunjukkan pada kemampuan guru untuk berelasi, berinteraksi. Guru
memperlihatkan keluwesan dalam pergaulan dengan siswa, kepala sekolah,
dan juga teman sejawat di tempat ia mengajar. Guru bisa menciptakan
persahabatan yang baik. Keberadaannya memberi manfaat yang positif.
Sedangkan kompetensi profesional lebih menunjukkan pada kemampuan yang
dimiliki guru sebagai pengajar yang baik.
Raka Joni (1979) berdasarkan Komisi Kurikulum Bersama P3G menetapkan
dan merumuskan bahwa kompetensi profesional guru di Indonesia terdiri
atas 10 kompetensi, yakni: (1) menguasai bahan pelajaran; (2) mengelola
program pembelajaran; (3) mengelola kelas; (4) menggunakan media dan
sumber belajar; (5) menguasai landasan pendidikan; (6) mengelola interaksi
belajar mengajar; (7) menilai prestasi belajar; (8) mengenal fungsi dan
layanan bimbingan dan penyuluhan; (9) mengenal dan menyelenggarakan
administrasi sekolah; dan (10) memahami dan menafsirkan hasil penelitian
guna keperluan pengajaran.
Dari kesepuluh kompetensi profesional itu menurut hemat penulis dapat
dirangkum menjadi dua kompetensi yang paling utama, yaitu menguasai bahan
pelajaran dan dapat mengajarkannya dengan jelas dan menarik. Kedua
kompetensi inilah dalam kondisi objektif belum terpenuhi. Mungkin kita pernah
mendengar komentar, “Si guru A itu hebat benar penguasaan materinya tetapi
tidak bisa mengajar”, atau sebaliknya, “Si guru B itu pandai mengajar tetap minim penguasaan materi"
Konsepsi Micro Teaching
Harus diakui bahwa tidak banyak referensi atau buku-buku yang membahas
secara khusus tentang konsepsi micro teaching. Tetapi secara singkat dapat
diungkapkan di sini, micro teaching merupakan latihan mengajar yang
diorganisasi di mana ada yang berperan sebagai guru dan lainnya sebagai
siswa dalam kelas. Setiap pelaksanaan mengajar direkam supaya dapat dilihat
kembali dan dievaluasi cara mengajarnya. Micro teaching dilakukan di dalam
sebuah ruangan yang dilengkapi dengan berbagai alat/barang yang diperlukan.
Prinsip pelaksanaan micro teaching dapat dijelaskan sebagai berikut: guru/
calon guru mengajar di area mengajar. Selama proses itu segala aktivitas
guru/calon guru direkam oleh kamera video. Pastikan bahwa gambar dan
guru dapat terekam dengan jelas. Pihak pengamat, dalam hal ini kepala sekolah,
bagian SDM, guru senior yang ditunjuk dapat memperhatikan penampilan
guru/calon guru dengan menempatkan diri di kursi dan meja yang telah
tersedia. Sekali-sekali pengamat dapat bertanya, berdiskusi dengan guru/
calon guru supaya proses mengajar lebih hidup. Speaker dapat ditambahkan
sepanjang memang dibutuhkan agar suara guru terdengar lebih keras.Sejauh pengetahuan dan pengalaman penulis, ruangan tersebut dapat didesain.
Setelah selesai, hasil rekaman dapat di diputar kembali (playback) dengan
memanfaatkan tv monitor (7). Pada sesi ini calon guru/calon guru dapat melihat
kembali penampilannya selama mengajar. Sedangkan pengamat memberi
penilaian, menyampaikan kelebihan dan kekurangannya. Di sinilah menjadi
titik penting untuk melihat, mengevaluasi, memberi pendapat terhadap
kelebihan dan kekurangan guru/calon.
Dengan demikian micro teaching dapat dijadikan sebuah pendekatan baru
yang inovatif dan aplikatif untuk mempersiapkan performance guru agar lebih
kapabel.
Prasyarat yang Dibutuhkan untuk Melaksanakan
Micro Teaching
Prasyarat utama yang dibutuhkan agar micro teaching dapat berjalan adalah,
tersedianya sebuah ruangan khusus yang dilengkapi dengan kamera video,
recorder, mic, penerangan yang cukup. Ukuran ruangan tidak ada standar
yang baku. Ukuran ruangan bisa antara 8 m x 6 m, atau 8 m x 7 m.
Selanjutnya tersedianya sejumlah sarana lainnya layaknya sebuah ruang
kelas. Ada white board, meja dan kursi, OHP kalau memang diperlukan. Dari
sisi SDM, memerlukan seorang teknisi atau operator dan sekaligus bertindak
sebagai kameraman. Penguasaan teknis rekaman video/audio menjadi
prasyarat mutlak. Karena sekarang era komputer, dan hasil rekaman selalu
dalam bentuk VCD, maka teknisi itu juga harus terampil memadukan antara
kamera video dan komputer agar menjadi sebuah sistem yang berdaya guna.
Jika setiap sekolah atau yayasan pedidikan memiliki pendekatan model
micro teaching dan efektif dalam pelaksanaannya, maka institusi tersebut
sudah satu langkah di depan dibandingkan lembaga pendidikan lainnya yang
belum punya. Keberadaan dan operasionalnya dapat dikelola oleh unit, bidang,
atau pusat sumber belajar.
Aplikasi Micro Teaching
Di atas penulis sudah mengemukakan garis besar aplikasi micro teachingUntuk mempertegas kembali penulis akan menyampaikan secara lebih rinci.
Aplikasi micro teaching dapat berangkat dari sebuah recruitment caloncalon
guru. Umpama seorang calon guru sudah lulus tes awal, wawancara,
dan psiko test. Tetapi ketiga tahapan itu masih mengandalkan hasil tertulis.
Menurut hemat penulis itu belumlah cukup. Calon guru harus juga lulus tes
mengajar. Calon guru diminta mengajar di ruang micro teaching. Ia harus
benar-benar berperan sebagai guru yang memang sedang mengajar di dalam
kelas. Kalau perlu guru diminta untuk membuat kerangka pengajaran. Di sinilah
kemampuan mengajar calon guru dipertaruhkan.
Aplikasi lainnya dapat juga berangkat dari keprihatinan atas kemampuan
mengajar guru. Ini berarti semacam in job training. Guru-guru, baik yang
senior maupun yunior perlu penyegaran/peningkatan keterampilan
mengajarnya. Mereka dapat menilai sendiri apakah kemampuan mengajarnya
yang selama ini mereka “pertotonkan” di depan kelas sudah cukup memadai
atau belum. Ini juga memberi pernyataan yang tajam agar para guru tidak
mengklaim bahwa penampilan mengajarnya sudah yang terbaik.
Garis Besar Pelaksanaan Micro Teaching
Sebelum melaksanakan micro teaching ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan. Berdasarkan sumber yang ada (http://www.ussoccer.com/)
disebut dengan istilah Micro Teaching Lesson Plan. Dalam rencana ini
disebutkan kesiapan-kesiapan seputar: (1) Peralatan dan bahan. Termasuk
di dalamnya transparansi dan OHP, laptop dengan LCD proyektor, layar, spidol,
flip chart; (2) Rencana pelajaran. Anda harus lebih fokus untuk persiapan
ini. Termasuk di dalamnya perumusan tujuan pelajaran, pengaturan proses
pelajaran, partisipasi yang diharapkan, alat bantu/media, dan penutupan micro
teaching; (3) Presentasi. Anda dapat meminta pertolongan orang lain untuk
mengatur kelas. Tersedia waktu 10 menit untuk presentasi. Jika ternyata
melebih waktu yang tersedia, Anda tetap diizinkan menyelesaikan pelajaran
Anda; (4) Orientasi. Tahapan ini fokus pada evaluasi yang dilakukan setelah
presentasi. Anda dapat mengevaluasi keterampilan Anda, yang meliputi:
penampilan, cara/metode, keantusiasan, kontak mata dengan siswa,
penggunaan visual, partisipasi aktif kelas, hal-hal yang tidak diharapkan tetapi
terjadi (lampu OHP padam, interupsi, dll), modulasi suara, intonasi yang bagus
tidak datar.
Secara tegas dapat disebutkan di sini, aspek-aspek yang perlu dievaluasi
dalam pelaksanaan micro teaching adalah presentasi (volume dan kejelasan
suara, kecepatan dan kejelasan ucapan, kontak mata ke kelas, semangat dan
keantusiasan); the chalkboard (besar kecil tulisan dan kejelasan tulisan,
pengorganisasian materi, penggunaan media pembelajaran, pengaturan
waktu, posisi badan; isi (penguasaan materi, perencanaan topik, kesesuaian
penjelasan dengan hal-hal yang telah dirumuskan secara detil, ketergantungan
dengan catatan-catatan); dan interaksi kelas (respon terhadap pertanyaan,
reaksi terhadap pertanyaan).
Manfaat Micro Teaching Secara Lebih Luas
Penerapan micro teaching tidak hanya terbatas pada tujuan mencari calon
guru yang dapat mengajar dengan baik dan upaya mendorong (encourage)
terhadap guru-guru untuk selalu meningkatkan performance-nya. Tetapi masih
dapat digunakan dengan tujuan-tujuan lain.
Pendekatan micro teaching dapat dimanfaatkan untuk mencari seorang
guru menjadi model dalam mengajar. Guru yang dijadikan model memang
sudah diakui keandalannya dalam mengajar. Namun demikian tidak harus
semua bidang studi ada seorang model guru. Tentukan bidang studi yang
dianggap harus ada guru model. Pendekatan ini juga dapat digunakan untuk
mengajar tanpa kehadiran guru. Misalnya guru mengajar bidang studi x dengan
pokok bahasan y, proses mengajarnya direkam. Jika suatu saat guru itu
berhalangan, guru pengganti atau guru piket dapat memutar ulang rekaman
itu. Siswa tinggal melihat dan mendengarkan. Materi pengajaran yang
disampaikan dengan metode eksperimen, demonstrasi atau ceramah sangat
cocok.
Masih banyak manfaat lain dari kehadiran micro teaching, tergantung
daya kreatif dari orang-orang atau unit yang mendapat tugas untuk mengelolanyaPendekatan micro teaching ditujukan untuk pembentukan profesionalitas guru.
Sasaran yang hendak dicapai adalah, guru/calon guru supaya memiliki
seperangkat pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap serta tingkah laku yang
diperlukan bagi profesinya serta cakap dan tepat menggunakannya dalam
tugas dan perannya di sekolah. Dengan pendekatan micro teaching guru/
calon guru berlatih mengajar secara terbatas (isolated skill development),
namun tetap mengajar yang sesungguhnya secara diawasi (supervised
teaching), sebelum mengajar yang sesungguhnya secara penuh (fullresponsibility
teaching).
Pendekatan micro teaching memberi kesempatan seluas-luasnya bagi
guru/calon guru untuk mengeksplorasi semua kelebihannya, memberi
kesempatan untuk mengukur kemampuannya. Mereka dapat mengevaluasi
diri dan mengetahi, sejauh mana kemampuan dan penampilannya..
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar